Sebuah Kajian Monoteisme Alkitabiah

The Only True God - Sebuah Kajian Monoteisme Alkitabiah (Versi Ringkas)

 

BUKU TERCETAK (HARGA BARU!)

Anda dapat membeli buku “The Only True God: Sebuah Kajian Monoteisme Alkitabiah” dari toko-toko buku tertentu di Indonesia, atau dengan menghubungi respon@theonlytruegod.org , atau sms ke 081382851058.

Versi Ringkas: Rp 40,000

Versi Lengkap: Rp 80,000

 

PENGENALAN

“The Only True God” oleh Eric H.H. Chang adalah sebuah karya penting tentang monoteisme Alkitabiah.

Kepercayaan yang dinyatakan dalam Alkitab mutlak bersifat monoteistis. Pesan Allah kepada umat manusia terutamanya adalah panggilan untuk percaya kepada Yahweh, satu-satunya Allah Israel. Monoteisme berakar dalam hukum Taurat dan kitab para nabi, serta tumbuh subur dalam kehidupan umat Allah. Yesus mengungkapkan monoteisme keyahudiannya ketika ia berdoa, “Inilah hidup yang kekal, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.”

Namun, pada abad kedua, komitmen kepada monoteisme mulai melenyap di dalam jemaat kecuali namanya. Jemaat tersebut secara predominan telah menjadi jemaat bukan Yahudi dan reseptif terhadap cara pemikiran kafir yang politeistis, suatu perkembangan yang pada akhirnya berpuncak pada perumusan trinitaris di Nikea.

Buku ini merupakan kajian rinci atas monoteisme Alkitabiah dan klaim-klaim trinitarianisme terhadap monoteisme. Kajian ini memberikan perhatian khusus kepada teks-teks, terutamanya kepada Prolog Injil Yohanes dalam Yohanes 1:1-18, yang kerap kali digunakan untuk menyangga doktrin trinitaris. Buku ini diakhiri dengan nada gembira yang mengemukakan berkat-berkat mulia bagi umat Allah dalam kebenaran bahwa Firman itu telah menjadi daging di dalam Yesus Kristus dan diam di antara kita.

 

Beberapa kutipan dari buku THE ONLY TRUE GOD:

“Karya ini bukanlah hasil suatu rencana untuk meniadakan atau menggelincirkan trinitarianisme…”

“Saya menulis sebagai seorang yang dahulunya seorang Trinitarian sejak menjadi seorang Kristen di usia 19 tahun—suatu periode yang menjangkau lebih dari lima puluh tahun lamanya. Selama hampir empat dasawarsa melayani sebagai pendeta, pemimpin gereja, dan guru banyak orang yang telah melayani purna waktu, saya mengajarkan doktrin trinitaris dengan semangat berapi-api, sebagaimana dapat disaksikan oleh orang yang mengenal saya. Trinitarianismelah yang saya minum bersama dengan susu spiritual ketika saya masih seorang bayi rohani. Selanjutnya, dalam studi-studi Alkitabiah dan teologis, minat saya terfokus kepada Kristologi yang saya kejar dengan intensitas yang cukup tinggi…”

“Satu  hal  yang  bisa  saya  lihat  adalah:  saya  perlu  menilai  kembali apakah  kita  sebagai  orang  Kristen  sungguh-sungguh  adalah  orang monoteis  atau  bukan.  Apakah  kita  setia  kepada  wahyu  Alkitabiah?...”

“Umat  Kristen  trinitaris  cenderung  mendudukkan  diri  di  antara umat  Yahudi  dan Muslim  sebagai  orang monoteis. Masalahnya  adalah, baik  Yudaisme  maupun  agama  Islam  tidak  mengakui  Kekristenan trinitaris  sebagai  agama  yang  betul-betul  monoteistik,  tanpa menghiraukan  klaim-klaim  Kristiani.  Apapun  artinya  “monoteisme” Kristiani  itu, baik umat Yahudi maupun Muslim tidak menerima agama tersebut  sebagai  monoteistik  menurut  Kitab  Suci  mereka.  Apakah mereka bersikap keterlaluan?...”

“Sampai saat itu dengan penuh keyakinan saya percaya bahwa saya mampu  mempertahankan  trinitarianisme  berdasarkan  teks-teks Perjanjian  Baru  yang  begitu  saya  kenal  baik. Namun,…”

“Yang mengejutkan saya adalah: sekali saya mulai menyisihkan prasangka serta pra-konsepsi dan menilai  kembali  setiap  teks  guna melihat  apa  yang  sesungguhnya dikatakan  di  situ,  dan  bukan  dengan  interpretasi  kita  sebagai  seorang Trinitarian, pesan yang muncul dari teks itu ternyata tidak sama dengan perkiraan  saya.  Hal  ini  terutamanya  benar  untuk  Yohanes  1:1.  Oleh karena  trinitarianisme  saya  yang  tertancap  dalam,  proses  ini  berakhir dengan  pergumulan  panjang  (yang  disertai  kerja  sangat  keras)  untuk memperoleh kebenaran pesan Alkitabiah. Beberapa dari hasil upaya  itu tertuang  dalam  buku  ini.  Biarlah  setiap  pembaca  menilainya  sendiri dengan  seksama,  dan  kiranya Allah mengaruniakan  terang-Nya  kepada kita, yang tanpanya kita tidak dapat melihat.”

“Karya  ini  bertujuan  jauh  lebih  penting  daripada  menggugurkan dogma  trinitaris.  Pengguguran  trinitarianisme  itu  akan membersihkan jalan kepada pewartaan sebuah pewahyuan indah yang telah disamarkan oleh  doktrin  trinitaris,  yakni,…”

 

PERTANYAAN, UMPAN BALIK DAN KOMENTAR

Kami menyambut pertanyaan, umpan balik dan komentar dari Anda tentang buku elektronik ini. Silakan mengirim respon Anda ke respon@theonlytruegod.org